Daftar Isi
Settings
arrow_back

expand_more
Bab I
Ketentuan Umum
expand_more
Bab II
Asas, Tujuan, Dan Ruang Lingkup
expand_more
Bab III
Pembinaan
expand_more
Bab IV
Perencanaan
expand_more
Bab V
Pembangunan
expand_more
Bab VI
Penguasaan, Pemilikan, Dan Pemanfaatan
expand_more
Bab VII
Pengelolaan
expand_more
Bab VIII
Peningkatan Kualitas
expand_more
Bab IX
Pengendalian
expand_more
Bab X
Kelembagaan
expand_more
Bab XI
Tugas Dan Wewenang
expand_more
Bab XII
Hak Dan Kewajiban
expand_more
Bab XIII
Pendanaan Dan Sistem Pembiayaan
expand_more
Bab XIV
Peran Masyarakat
expand_more
Bab XV
Larangan
expand_more
Bab XVI
Penyelesaian Sengketa
expand_more
Bab XVII
Sanksi Administratif
expand_more
Bab XVIII
Ketentuan Pidana
expand_more
Bab XIX
Ketentuan Penutup
Penjelasan

UU No. 20 Tahun 2011

Tentang Rumah Susun

Uji Materi Mahkamah Konstitusi
  • 21/PUU-XIII/2015

    Pasal 75 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun sepanjang frasa "Pasal 59 ayat (2) bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai bahwa yang dimaksud dengan "masa transisi" dalam Penjelasan Pasal 59 ayat (1) tidak diartikan 1 (satu) tahun tanpa dikaitkan dengan belum terjualnya seluruh satuan rumah susun.


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

content_copy

NOMOR 20 TAHUN 2011

TENTANG

RUMAH SUSUN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

a.

bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, yang merupakan kebutuhan dasar manusia, dan yang mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa sebagai salah satu upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, berjati diri, mandiri, dan produktif;

b.

bahwa negara bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan perumahan melalui rumah susun yang layak bagi kehidupan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia;

c.

bahwa setiap orang dapat berpartisipasi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal melalui pembangunan rumah susun yang layak, aman, harmonis, terjangkau secara mandiri, dan berkelanjutan;

d.

bahwa negara berkewajiban memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah;

e.

bahwa Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum, kebutuhan setiap orang, dan partisipasi masyarakat serta tanggung jawab dan kewajiban negara dalam penyelenggaraan rumah susun sehingga perlu diganti;

f.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e perlu membentuk Undang-Undang tentang Rumah Susun.

Mengingat:

1.

Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 28H ayat (1), ayat (2), dan ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5188).

Dengan Persetujuan Bersama:

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan:

UNDANG-UNDANG TENTANG RUMAH SUSUN.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

content_copy

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1.

Rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.

2.

Penyelenggaraan rumah susun adalah kegiatan perencanaan, pembangunan, penguasaan dan pemanfaatan, pengelolaan, pemeliharaan dan perawatan, pengendalian, kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat yang dilaksanakan secara sistematis, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

3.

Satuan rumah susun yang selanjutnya disebut sarusun adalah unit rumah susun yang tujuan utamanya digunakan secara terpisah dengan fungsi utama sebagai tempat hunian dan mempunyai sarana penghubung ke jalan umum.

4.

Tanah bersama adalah sebidang tanah hak atau tanah sewa untuk bangunan yang digunakan atas dasar hak bersama secara tidak terpisah yang di atasnya berdiri rumah susun dan ditetapkan batasnya dalam persyaratan izin mendirikan bangunan.

5.

Bagian bersama adalah bagian rumah susun yang dimiliki secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama dalam kesatuan fungsi dengan satuan-satuan rumah susun.

6.

Benda bersama adalah benda yang bukan merupakan bagian rumah susun melainkan bagian yang dimiliki bersama secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama.

7.

Rumah susun umum adalah rumah susun yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

8.

Rumah susun khusus adalah rumah susun yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan khusus.

9.

Rumah susun negara adalah rumah susun yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian, sarana pembinaan keluarga, serta penunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau pegawai negeri.

10.

Rumah susun komersial adalah rumah susun yang diselenggarakan untuk mendapatkan keuntungan.

11.

Sertifikat hak milik sarusun yang selanjutnya disebut SHM sarusun adalah tanda bukti kepemilikan atas sarusun di atas tanah hak milik, hak guna bangunan atau hak pakai di atas tanah negara, serta hak guna bangunan atau hak pakai di atas tanah hak pengelolaan.

12.

Sertifikat kepemilikan bangunan gedung sarusun yang selanjutnya disebut SKBG sarusun adalah tanda bukti kepemilikan atas sarusun di atas barang milik negara/daerah berupa tanah atau tanah wakaf dengan cara sewa.

13.

Nilai perbandingan proporsional yang selanjutnya disebut NPP adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara sarusun terhadap hak atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama yang dihitung berdasarkan nilai sarusun yang bersangkutan terhadap jumlah nilai rumah susun secara keseluruhan pada waktu pelaku pembangunan pertama kali memperhitungkan biaya pembangunannya secara keseluruhan untuk menentukan harga jualnya.

14.

Masyarakat berpenghasilan rendah yang selanjutnya disebut MBR adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh sarusun umum.

15.

Pelaku pembangunan rumah susun yang selanjutnya disebut pelaku pembangunan adalah setiap orang dan/atau pemerintah yang melakukan pembangunan perumahan dan permukiman.

16.

Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan hukum.

17.

Badan hukum adalah badan hukum yang didirikan oleh warga negara Indonesia yang kegiatannya di bidang penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman.

18.

Pemilik adalah setiap orang yang memiliki sarusun.

19.

Penghuni adalah orang yang menempati sarusun, baik sebagai pemilik maupun bukan pemilik.

20.

Pengelola adalah suatu badan hukum yang bertugas untuk mengelola rumah susun.

21.

Perhimpunan pemilik dan penghuni sarusun yang selanjutnya disebut PPPSRS adalah badan hukum yang beranggotakan para pemilik atau penghuni sarusun.

22.

Pemerintah pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

23.

Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

24.

Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perumahan dan kawasan permukiman.

penjelasan pasalexpand_more

BAB II

ASAS, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP

Pasal 2

content_copy

Penyelenggaraan rumah susun berasaskan pada:

a.

kesejahteraan;

b.

keadilan dan pemerataan;

c.

kenasionalan;

d.

keterjangkauan dan kemudahan;

e.

keefisienan dan kemanfaatan;

f.

kemandirian dan kebersamaan;

g.

kemitraan;

h.

keserasian dan keseimbangan;

i.

keterpaduan;

j.

kesehatan;

k.

kelestarian dan berkelanjutan;

l.

keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan; dan

m.

keamanan, ketertiban, dan keteraturan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 3

content_copy

Penyelenggaraan rumah susun bertujuan untuk:

a.

menjamin terwujudnya rumah susun yang layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan serta menciptakan permukiman yang terpadu guna membangun ketahanan ekonomi, sosial, dan budaya;

b.

meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan ruang dan tanah, serta menyediakan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan dalam menciptakan kawasan permukiman yang lengkap serta serasi dan seimbang dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan;

c.

mengurangi luasan dan mencegah timbulnya perumahan dan permukiman kumuh;

d.

mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan yang serasi, seimbang, efisien, dan produktif;

e.

memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi yang menunjang kehidupan penghuni dan masyarakat dengan tetap mengutamakan tujuan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak, terutama bagi MBR;

f.

memberdayakan para pemangku kepentingan di bidang pembangunan rumah susun;

g.

menjamin terpenuhinya kebutuhan rumah susun yang layak dan terjangkau, terutama bagi MBR dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan dalam suatu sistem tata kelola perumahan dan permukiman yang terpadu; dan

h.

memberikan kepastian hukum dalam penyediaan, kepenghunian, pengelolaan, dan kepemilikan rumah susun.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 4

content_copy

(1)

Lingkup pengaturan undang-undang ini meliputi:

a.

pembinaan;

b.

perencanaan;

c.

pembangunan;

d.

penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan;

e.

pengelolaan;

f.

peningkatan kualitas;

g.

pengendalian;

h.

kelembagaan;

i.

tugas dan wewenang;

j.

hak dan kewajiban;

k.

pendanaan dan sistem pembiayaan; dan

l.

peran masyarakat.

penjelasan pasalexpand_more

BAB III

PEMBINAAN

Pasal 5

content_copy

(1)

Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan rumah susun yang pembinaannya dilaksanakan oleh pemerintah.

(2)

Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh:

a.

Menteri pada tingkat nasional;

b.

gubernur pada tingkat provinsi; dan

c.

bupati/walikota pada tingkat kabupaten/kota.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 6

content_copy

(1)

Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) meliputi:

a.

perencanaan;

b.

pengaturan;

c.

pengendalian; dan

d.

pengawasan.

(2)

Dalam melaksanakan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri melakukan koordinasi lintas sektoral, lintas wilayah, dan lintas pemangku kepentingan, baik vertikal maupun horizontal.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 7

content_copy

(1)

Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a merupakan satu kesatuan yang utuh dari perencanaan pembangunan nasional dan merupakan bagian integral dari perencanaan pembangunan daerah.

(2)

Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh pemerintah sesuai dengan tingkat kewenangannya serta melibatkan peran serta masyarakat.

(3)

Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota dengan memperhatikan kebijakan dan strategi nasional di bidang rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4)

Perencanaan pada tingkat nasional menjadi pedoman untuk menyusun perencanaan penyelenggaraan pembangunan rumah susun pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 8

content_copy

Pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b meliputi:

a.

pembangunan;

b.

penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan;

c.

pengelolaan;

d.

peningkatan kualitas;

e.

kelembagaan; dan

f.

pendanaan dan sistem pembiayaan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 9

content_copy

Pengendalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c dilakukan untuk menjamin penyelenggaraan rumah susun sesuai dengan tujuannya.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 10

content_copy

Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf d meliputi pemantauan, evaluasi, dan tindakan koreksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 11

content_copy

(1)

Pemerintah melakukan pembinaan penyelenggaraan rumah susun secara nasional untuk memenuhi tertib penyelenggaraan rumah susun.

(2)

Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan cara:

a.

koordinasi penyelenggaraan rumah susun;

b.

sosialisasi peraturan perundang-undangan dan sosialisasi norma, standar, prosedur, dan kriteria;

c.

pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;

d.

pendidikan dan pelatihan;

e.

penelitian dan pengembangan;

f.

pengembangan sistem dan layanan informasi dan komunikasi; dan

g.

pemberdayaan pemangku kepentingan rumah susun.

(3)

Pemerintah melakukan pembinaan penyelenggaraan rumah susun kepada pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan masyarakat.

(4)

Pembinaan penyelenggaraan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan tujuan:

a.

mendorong pembangunan rumah susun dengan memanfaatkan teknik dan teknologi, bahan bangunan, rekayasa konstruksi, dan rancang bangun yang tepat-guna serta mempertimbangkan kearifan lokal dan keserasian lingkungan yang aman bagi kesehatan;

b.

mendorong pembangunan rumah susun yang mampu menggerakkan industri perumahan nasional dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya lokal, termasuk teknologi tahan gempa;

c.

mendorong terwujudnya hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat sebagai sarana pembinaan keluarga; dan

d.

mendorong perwujudan dan pelestarian nilai-nilai wawasan nusantara atau budaya nasional dalam pembangunan rumah susun.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 12

content_copy

Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

BAB IV

PERENCANAAN

Pasal 13

content_copy

(1)

Perencanaan pembangunan rumah susun meliputi:

a.

penetapan penyediaan jumlah dan jenis rumah susun;

b.

penetapan zonasi pembangunan rumah susun; dan

c.

penetapan lokasi pembangunan rumah susun.

(2)

Penetapan penyediaan jumlah dan jenis rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan berdasarkan kelompok sasaran, pelaku, dan sumber daya pembangunan yang meliputi rumah susun umum, rumah susun khusus, rumah susun negara, dan rumah susun komersial.

(3)

Penetapan zonasi dan lokasi pembangunan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c harus dilakukan sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota.

(4)

Dalam hal daerah belum mempunyai rencana tata ruang wilayah, gubernur atau bupati/walikota dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan zonasi dan lokasi pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

(5)

Khusus untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta penetapan zonasi dan lokasi pembangunan rumah susun dilakukan sesuai dengan ketentuan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 14

content_copy

(1)

Perencanaan pembangunan rumah susun dilaksanakan berdasarkan:

a.

kepadatan bangunan;

b.

jumlah dan kepadatan penduduk;

c.

rencana rinci tata ruang;

d.

layanan prasarana, sarana, dan utilitas umum;

e.

layanan moda transportasi;

f.

alternatif pengembangan konsep pemanfaatan rumah susun;

g.

layanan informasi dan komunikasi;

h.

konsep hunian berimbang; dan

i.

analisis potensi kebutuhan rumah susun.

(2)

Pedoman perencanaan pembangunan rumah susun diatur dengan peraturan Menteri.

penjelasan pasalexpand_more

BAB V

PEMBANGUNAN

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 15

content_copy

(1)

Pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara merupakan tanggung jawab pemerintah.

(2)

Pembangunan rumah susun umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh setiap orang mendapatkan kemudahan dan/atau bantuan pemerintah.

(3)

Pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan oleh lembaga nirlaba dan badan usaha.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 16

content_copy

(1)

Pembangunan rumah susun komersial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dapat dilaksanakan oleh setiap orang.

(2)

Pelaku pembangunan rumah susun komersial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyediakan rumah susun umum sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari total luas lantai rumah susun komersial yang dibangun.

(3)

Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan di luar lokasi kawasan rumah susun komersial pada kabupaten/kota yang sama.

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban menyediakan rumah susun umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 17

content_copy

Rumah susun dapat dibangun di atas tanah:

a.

hak milik;

b.

hak guna bangunan atau hak pakai atas tanah negara; dan

c.

hak guna bangunan atau hak pakai di atas hak pengelolaan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 18

content_copy

Selain dibangun di atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, rumah susun umum dan/atau rumah susun khusus dapat dibangun dengan:

a.

pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah; atau

b.

pendayagunaan tanah wakaf.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 19

content_copy

(1)

Pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah untuk pembangunan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf a dilakukan dengan cara sewa atau kerja sama pemanfaatan.

(2)

Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus telah diterbitkan sertifikat hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3)

Pelaksanaan sewa atau kerja sama pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 20

content_copy

(1)

Pendayagunaan tanah wakaf untuk pembangunan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf b dilakukan dengan cara sewa atau kerja sama pemanfaatan sesuai dengan ikrar wakaf.

(2)

Apabila pendayagunaan tanah wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak sesuai dengan ikrar wakaf, dapat dilakukan pengubahan peruntukan setelah memperoleh persetujuan dan/atau izin tertulis Badan Wakaf Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3)

Pengubahan peruntukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan untuk pembangunan rumah susun umum.

(4)

Pelaksanaan sewa atau kerja sama pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan prinsip syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(5)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan tanah wakaf untuk rumah susun umum diatur dengan Peraturan Pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 21

content_copy

(1)

Pemanfaatan dan pendayagunaan tanah untuk pembangunan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dan Pasal 20 harus dilakukan dengan perjanjian tertulis di hadapan pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2)

Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat:

a.

hak dan kewajiban penyewa dan pemilik tanah;

b.

jangka waktu sewa atas tanah;

c.

kepastian pemilik tanah untuk mendapatkan pengembalian tanah pada akhir masa perjanjian sewa; dan

d.

jaminan penyewa terhadap tanah yang dikembalikan tidak terdapat permasalahan fisik, administrasi, dan hukum.

(3)

Jangka waktu sewa atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diberikan selama 60 (enam puluh) tahun sejak ditandatanganinya perjanjian tertulis.

(4)

Penetapan tarif sewa atas tanah dilakukan oleh Pemerintah untuk menjamin keterjangkauan harga jual sarusun umum bagi MBR.

(5)

Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicatatkan di kantor pertanahan.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Kedua

Penyediaan Tanah

Pasal 22

content_copy

(1)

Penyediaan tanah untuk pembangunan rumah susun dapat dilakukan melalui:

a.

pemberian hak atas tanah terhadap tanah yang langsung dikuasai negara;

b.

konsolidasi tanah oleh pemilik tanah;

c.

peralihan atau pelepasan hak atas tanah oleh pemegang hak atas tanah;

d.

pemanfaatan barang milik negara atau barang milik daerah berupa tanah;

e.

pendayagunaan tanah wakaf;

f.

pendayagunaan sebagian tanah negara bekas tanah terlantar; dan/atau

g.

pengadaan tanah untuk pembangunan bagi kepentingan umum.

(2)

Penyediaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3)

Dalam hal pembangunan rumah susun dilakukan di atas tanah hak guna bangunan atau hak pakai di atas hak pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf c, pelaku pembangunan wajib menyelesaikan status hak guna bangunan atau hak pakai di atas hak pengelolaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum menjual sarusun yang bersangkutan.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Ketiga

Persyaratan Pembangunan

Paragraf 1

Umum

Pasal 23

content_copy

(1)

Pembangunan rumah susun dilakukan melalui perencanaan teknis, pelaksanaan, dan pengawasan teknis.

(2)

Perencanaan teknis, pelaksanaan, dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 24

content_copy

Persyaratan pembangunan rumah susun meliputi:

a.

persyaratan administratif;

b.

persyaratan teknis; dan

c.

persyaratan ekologis.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 25

content_copy

(1)

Dalam membangun rumah susun, pelaku pembangunan wajib memisahkan rumah susun atas sarusun, bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.

(2)

Benda bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi bagian bersama jika dibangun sebagai bagian bangunan rumah susun.

(3)

Pemisahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan kejelasan atas:

a.

batas sarusun yang dapat digunakan secara terpisah untuk setiap pemilik;

b.

batas dan uraian atas bagian bersama dan benda bersama yang menjadi hak setiap sarusun; dan

c.

batas dan uraian tanah bersama dan besarnya bagian yang menjadi hak setiap sarusun.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 26

content_copy

(1)

Pemisahan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) wajib dituangkan dalam bentuk gambar dan uraian.

(2)

Gambar dan uraian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi dasar untuk menetapkan NPP, SHM sarusun atau SKBG sarusun, dan perjanjian pengikatan jual beli.

(3)

Gambar dan uraian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat sebelum pelaksanaan pembangunan rumah susun.

(4)

Gambar dan uraian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam bentuk akta pemisahan yang disahkan oleh bupati/walikota.

(5)

Khusus untuk Provinsi DKI Jakarta, akta pemisahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disahkan oleh Gubernur.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 27

content_copy

Ketentuan lebih lanjut mengenai pemisahan rumah susun serta gambar dan uraian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26 diatur dengan peraturan pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

Paragraf 2

Persyaratan Administratif

Pasal 28

content_copy

Dalam melakukan pembangunan rumah susun, pelaku pembangunan harus memenuhi ketentuan administratif yang meliputi:

a.

status hak atas tanah; dan

b.

izin mendirikan bangunan (IMB).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 29

content_copy

(1)

Pelaku pembangunan harus membangun rumah susun dan lingkungannya sesuai dengan rencana fungsi dan pemanfaatannya.

(2)

Rencana fungsi dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan izin dari bupati/walikota.

(3)

Khusus untuk Provinsi DKI Jakarta, rencana fungsi dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mendapatkan izin Gubernur.

(4)

Permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diajukan oleh pelaku pembangunan dengan melampirkan persyaratan sebagai berikut:

a.

sertifikat hak atas tanah;

b.

surat keterangan rencana kabupaten/kota;

c.

gambar rencana tapak;

d.

gambar rencana arsitektur yang memuat denah, tampak, dan potongan rumah susun yang menunjukkan dengan jelas batasan secara vertikal dan horizontal dari sarusun;

e.

gambar rencana struktur beserta perhitungannya;

f.

gambar rencana yang menunjukkan dengan jelas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama; dan

g.

gambar rencana utilitas umum dan instalasi beserta perlengkapannya.

(5)

Dalam hal rumah susun dibangun di atas tanah sewa, pelaku pembangunan harus melampirkan perjanjian tertulis pemanfaatan dan pendayagunaan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 30

content_copy

Pelaku pembangunan setelah mendapatkan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2) dan ayat (3) wajib meminta pengesahan dari pemerintah daerah tentang pertelaan yang menunjukkan batas yang jelas dari setiap sarusun, bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama beserta uraian NPP.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 31

content_copy

(1)

Pengubahan rencana fungsi dan pemanfaatan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2) harus mendapatkan izin dari bupati/walikota.

(2)

Khusus untuk Provinsi DKI Jakarta, pengubahan rencana fungsi dan pemanfaatan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan izin dari Gubernur.

(3)

Pengubahan rencana fungsi dan pemanfaatan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi fungsi bagian bersama, benda bersama, dan fungsi hunian.

(4)

Dalam hal pengubahan rencana fungsi dan pemanfaatan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan pengubahan NPP, pertelaannya harus mendapatkan pengesahan kembali dari bupati/walikota.

(5)

Khusus Provinsi DKI Jakarta pengubahan rencana fungsi dan pemanfaatan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mendapatkan pengesahan dari Gubernur.

(6)

Untuk mendapatkan izin pengubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaku pembangunan harus mengajukan alasan dan usulan pengubahan dengan melampirkan:

a.

gambar rencana tapak beserta pengubahannya;

b.

gambar rencana arsitektur beserta pengubahannya;

c.

gambar rencana struktur dan penghitungannya beserta pengubahannya;

d.

gambar rencana yang menunjukkan dengan jelas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama beserta pengubahannya; dan

e.

gambar rencana utilitas umum dan instalasi serta perlengkapannya beserta pengubahannya.

(7)

Pengajuan izin pengubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dikenai retribusi.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 32

content_copy

Pedoman permohonan izin rencana fungsi dan pemanfaatan serta pengubahannya diatur dengan peraturan Menteri.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 33

content_copy

Ketentuan lebih lanjut mengenai permohonan izin rencana fungsi dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 serta permohonan izin pengubahan rencana fungsi dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 diatur dengan peraturan daerah.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 34

content_copy

(1)

Pembangunan rumah susun dilaksanakan berdasarkan perhitungan dan penetapan koefisien lantai bangunan dan koefisien dasar bangunan yang disesuaikan dengan kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan yang mengacu pada rencana tata ruang wilayah.

(2)

Ketentuan mengenai koefisien lantai bangunan dan koefisien dasar bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan dalam hal terdapat pembatasan ketinggian bangunan yang berhubungan dengan:

a.

ketentuan keamanan dan keselamatan operasional penerbangan; dan/atau

b.

kearifan lokal.

penjelasan pasalexpand_more

Paragraf 3

Persyaratan Teknis

Pasal 35

content_copy

Persyaratan teknis pembangunan rumah susun terdiri atas:

a.

tata bangunan yang meliputi persyaratan peruntukan lokasi serta intensitas dan arsitektur bangunan; dan

b.

keandalan bangunan yang meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 36

content_copy

Ketentuan tata bangunan dan keandalan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Paragraf 4

Persyaratan Ekologis

Pasal 37

content_copy

Pembangunan rumah susun harus memenuhi persyaratan ekologis yang mencakup keserasian dan keseimbangan fungsi lingkungan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 38

content_copy

Pembangunan rumah susun yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi persyaratan analisis dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Keempat

Sertifikat Laik Fungsi

Pasal 39

content_copy

(1)

Pelaku pembangunan wajib mengajukan permohonan sertifikat laik fungsi kepada bupati/walikota setelah menyelesaikan seluruh atau sebagian pembangunan rumah susun sepanjang tidak bertentangan dengan IMB.

(2)

Khusus untuk Provinsi DKI Jakarta, permohonan sertifikat laik fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Gubernur.

(3)

Pemerintah daerah menerbitkan sertifikat laik fungsi setelah melakukan pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Kelima

Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum Lingkungan Rumah Susun

Pasal 40

content_copy

(1)

Pelaku pembangunan wajib melengkapi lingkungan rumah susun dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum.

(2)

Prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mempertimbangkan:

a.

kemudahan dan keserasian hubungan dalam kegiatan sehari-hari;

b.

pengamanan jika terjadi hal-hal yang membahayakan; dan

c.

struktur, ukuran, dan kekuatan sesuai dengan fungsi dan penggunaannya.

(3)

Prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar pelayanan minimal.

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelayanan minimal prasarana, sarana, dan utilitas umum diatur dengan Peraturan Menteri.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Keenam

Pembangunan Melalui Penanaman Modal Asing

Pasal 41

content_copy

Pembangunan rumah susun dapat dilakukan melalui penanaman modal asing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Ketujuh

Pemasaran dan Jual Beli Rumah Susun

Pasal 42

content_copy

(1)

Pelaku pembangunan dapat melakukan pemasaran sebelum pembangunan rumah susun dilaksanakan.

(2)

Dalam hal pemasaran dilakukan sebelum pembangunan rumah susun dilaksanakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaku pembangunan sekurang-kurangnya harus memiliki:

a.

kepastian peruntukan ruang;

b.

kepastian hak atas tanah;

c.

kepastian status penguasaan rumah susun;

d.

perizinan pembangunan rumah susun; dan

e.

jaminan atas pembangunan rumah susun dari lembaga penjamin.

(3)

Dalam hal pemasaran dilakukan sebelum pembangunan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (2), segala sesuatu yang dijanjikan oleh pelaku pembangunan dan/atau agen pemasaran mengikat sebagai perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) bagi para pihak.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 43

content_copy

(1)

Proses jual beli sarusun sebelum pembangunan rumah susun selesai dapat dilakukan melalui PPJB yang dibuat di hadapan notaris.

(2)

PPJB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah memenuhi persyaratan kepastian atas:

a.

status kepemilikan tanah;

b.

kepemilikan IMB;

c.

ketersediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum;

d.

keterbangunan paling sedikit 20% (dua puluh persen); dan

e.

hal yang diperjanjikan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 44

content_copy

(1)

Proses jual beli, yang dilakukan sesudah pembangunan rumah susun selesai, dilakukan melalui akta jual beli (AJB).

(2)

Pembangunan rumah susun dinyatakan selesai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila telah diterbitkan:

a.

Sertifikat Laik Fungsi; dan

b.

SHM sarusun atau SKBG sarusun.

penjelasan pasalexpand_more

BAB VI

PENGUASAAN, PEMILIKAN, DAN PEMANFAATAN

Bagian Kesatu

Penguasaan Sarusun

Pasal 45

content_copy

(1)

Penguasaan sarusun pada rumah susun umum dapat dilakukan dengan cara dimiliki atau disewa.

(2)

Penguasaan sarusun pada rumah susun khusus dapat dilakukan dengan cara pinjam-pakai atau sewa.

(3)

Penguasaan terhadap sarusun pada rumah susun negara dapat dilakukan dengan cara pinjam-pakai, sewa, atau sewa-beli.

(4)

Penguasaan terhadap sarusun pada rumah susun komersial dapat dilakukan dengan cara dimiliki atau disewa.

(5)

Penguasaan sarusun dengan cara sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4) dilakukan dengan perjanjian tertulis yang dibuat di hadapan pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(6)

Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus didaftarkan pada PPPSRS.

(7)

Tata cara pelaksanaan pinjam-pakai atau sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah.

(8)

Tata cara pelaksanaan pinjam-pakai, sewa, atau sewa-beli sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Kedua

Pemilikan Sarusun

Pasal 46

content_copy

(1)

Hak kepemilikan atas sarusun merupakan hak milik atas sarusun yang bersifat perseorangan yang terpisah dengan hak bersama atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.

(2)

Hak atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan atas NPP.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 47

content_copy

(1)

Sebagai tanda bukti kepemilikan atas sarusun di atas tanah hak milik, hak guna bangunan, atau hak pakai di atas tanah negara, hak guna bangunan atau hak pakai diatas tanah hak pengelolaan diterbitkan SHM sarusun.

(2)

SHM sarusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan bagi setiap orang yang memenuhi syarat sebagai pemegang hak atas tanah.

(3)

SHM sarusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang terdiri atas:

a.

salinan buku tanah dan surat ukur atas hak tanah bersama sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b.

gambar denah lantai pada tingkat rumah susun bersangkutan yang menunjukkan sarusun yang dimiliki; dan

c.

pertelaan mengenai besarnya bagian hak atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama bagi yang bersangkutan.

(4)

SHM sarusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh kantor pertanahan kabupaten/kota.

(5)

SHM sarusun dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani hak tanggungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 48

content_copy

(1)

Sebagai tanda bukti kepemilikan atas sarusun di atas barang milik negara/daerah berupa tanah atau tanah wakaf dengan cara sewa, diterbitkan SKBG sarusun.

(2)

SKBG sarusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang terdiri atas:

a.

salinan buku bangunan gedung;

b.

salinan surat perjanjian sewa atas tanah;

c.

gambar denah lantai pada tingkat rumah susun yang bersangkutan yang menunjukkan sarusun yang dimiliki; dan

d.

pertelaan mengenai besarnya bagian hak atas bagian bersama dan benda bersama yang bersangkutan.

(3)

SKBG sarusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh instansi teknis kabupaten/kota yang bertugas dan bertanggung jawab di bidang bangunan gedung.

(4)

SKBG sarusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani fidusia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(5)

SKBG sarusun yang dijadikan jaminan utang secara fidusia harus didaftarkan ke kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 49

content_copy

Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk SHM sarusun dan SKBG sarusun dan tata cara penerbitannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dan Pasal 48 diatur dengan peraturan pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Ketiga

Pemanfaatan Rumah Susun

Pasal 50

content_copy

Pemanfaatan rumah susun dilaksanakan sesuai dengan fungsi:

a.

hunian; atau

b.

campuran.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 51

content_copy

(1)

Pemanfaatan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 dapat berubah dari fungsi hunian ke fungsi campuran karena perubahan rencana tata ruang.

(2)

Perubahan fungsi yang diakibatkan oleh perubahan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi dasar mengganti sejumlah rumah susun dan/atau memukimkan kembali pemilik sarusun yang dialihfungsikan.

(3)

Pihak yang melakukan perubahan fungsi rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib menjamin hak kepemilikan sarusun.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Keempat

Pemanfaatan Sarusun

Pasal 52

content_copy

Setiap orang yang menempati, menghuni, atau memiliki sarusun wajib memanfaatkan sarusun sesuai dengan fungsinya.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 53

content_copy

(1)

Setiap orang dapat menyewa sarusun.

(2)

Penyewaan sarusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi hak orang perseorangan atas sarusun dan pemanfaatan terhadap bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 54

content_copy

(1)

Sarusun umum yang memperoleh kemudahan dari pemerintah hanya dapat dimiliki atau disewa oleh MBR.

(2)

Setiap orang yang memiliki sarusun umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat mengalihkan kepemilikannya kepada pihak lain dalam hal:

a.

pewarisan;

b.

perikatan kepemilikan rumah susun setelah jangka waktu 20 (dua puluh) tahun; atau

c.

pindah tempat tinggal yang dibuktikan dengan surat keterangan pindah dari yang berwenang.

(3)

Pengalihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c hanya dapat dilakukan kepada badan pelaksana.

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengalihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) diatur dalam peraturan pemerintah.

(5)

Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara pemberian kemudahan kepemilikan sarusun umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan Menteri.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 55

content_copy

(1)

Sarusun pada rumah susun negara dapat disewa oleh perseorangan atau kelompok dengan kemudahan dari pemerintah.

(2)

Ketentuan mengenai pedoman penyewaan sarusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

BAB VII

PENGELOLAAN

Pasal 56

content_copy

(1)

Pengelolaan rumah susun meliputi kegiatan operasional, pemeliharaan, dan perawatan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.

(2)

Pengelolaan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan oleh pengelola yang berbadan hukum, kecuali rumah susun umum sewa, rumah susun khusus, dan rumah susun negara.

(3)

Badan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mendaftar dan mendapatkan izin usaha dari bupati/walikota.

(4)

Khusus untuk Provinsi DKI Jakarta, badan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus mendaftar dan mendapatkan izin usaha dari Gubernur.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 57

content_copy

(1)

Dalam menjalankan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2), pengelola berhak menerima sejumlah biaya pengelolaan.

(2)

Biaya pengelolaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada pemilik dan penghuni secara proporsional.

(3)

Biaya pengelolaan rumah susun umum sewa dan rumah susun khusus milik pemerintah dapat disubsidi pemerintah.

(4)

Besarnya biaya pengelolaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan kebutuhan nyata biaya operasional, pemeliharaan, dan perawatan.

(5)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penghitungan besarnya biaya pengelolaan diatur dalam peraturan menteri yang membidangi bangunan gedung.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 58

content_copy

Dalam menjalankan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2), pengelola dapat bekerja sama dengan orang perseorangan dan badan hukum.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 59

content_copy

(1)

Pelaku pembangunan yang membangun rumah susun umum milik dan rumah susun komersial dalam masa transisi sebelum terbentuknya PPPSRS wajib mengelola rumah susun.

(2)

Masa transisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun sejak penyerahan pertama kali sarusun kepada pemilik.

(3)

Pelaku pembangunan dalam pengelolaan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bekerja sama dengan pengelola.

(4)

Besarnya biaya pengelolaan rumah susun pada masa transisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditanggung oleh pelaku pembangunan dan pemilik sarusun berdasarkan NPP setiap sarusun.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 60

content_copy

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan rumah susun, masa transisi, dan tata cara penyerahan pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, dan Pasal 59 diatur dengan peraturan pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

BAB VIII

PENINGKATAN KUALITAS

Pasal 61

content_copy

(1)

Peningkatan kualitas wajib dilakukan oleh pemilik sarusun terhadap rumah susun yang:

a.

tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki; dan/atau

b.

dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan rumah susun dan/atau lingkungan rumah susun.

(2)

Peningkatan kualitas rumah susun selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan atas prakarsa pemilik sarusun.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 62

content_copy

(1)

Peningkatan kualitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 dilakukan dengan pembangunan kembali rumah susun.

(2)

Pembangunan kembali rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pembongkaran, penataan, dan pembangunan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 63

content_copy

Peningkatan kualitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) dilakukan dengan tetap melindungi hak kepemilikan, termasuk kepentingan pemilik atau penghuni dengan memperhatikan faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang berkeadilan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 64

content_copy

Penetapan peningkatan kualitas rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1) merupakan kewenangan pemerintah daerah.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 65

content_copy

(1)

Prakarsa peningkatan kualitas rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (2) dilakukan oleh:

a.

pemilik sarusun untuk rumah susun umum milik dan rumah susun komersial melalui PPPSRS;

b.

Pemerintah, pemerintah daerah, atau pemilik untuk rumah susun umum sewa dan rumah susun khusus; atau

c.

Pemerintah atau pemerintah daerah untuk rumah susun negara.

(2)

Prakarsa peningkatan kualitas rumah susun yang berasal dari pemilik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus disetujui paling sedikit 60 % (enam puluh persen) anggota PPPSRS.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 66

content_copy

Pemrakarsa peningkatan kualitas rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) wajib:

a.

memberitahukan rencana peningkatan kualitas rumah susun kepada penghuni sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sebelum pelaksanaan rencana tersebut;

b.

memberikan kesempatan kepada pemilik untuk menyampaikan masukan terhadap rencana peningkatan kualitas; dan

c.

memprioritaskan pemilik lama untuk mendapatkan satuan rumah susun yang sudah ditingkatkan kualitasnya.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 67

content_copy

(1)

Dalam pelaksanaan peningkatan kualitas rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) huruf a, PPPSRS dapat bekerja sama dengan pelaku pembangunan rumah susun.

(2)

Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan perjanjian tertulis yang dibuat di hadapan pejabat yang berwenang berdasarkan prinsip kesetaraan.

(3)

Pelaksanaan peningkatan kualitas rumah susun umum dan rumah susun khusus dilaksanakan oleh badan pelaksana.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 68

content_copy

(1)

Pelaku pembangunan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan peningkatan kualitas, penyediaan tempat hunian sementara yang layak dengan memperhatikan faktor jarak, sarana, prasarana, dan utilitas umum, termasuk pendanaan.

(2)

PPPSRS bertanggung jawab terhadap penghunian kembali pemilik lama setelah selesainya peningkatan kualitas rumah susun.

(3)

Dalam hal penghunian kembali pemilik lama sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemilik tidak dikenai bea perolehan hak atas tanah dan bangunan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 69

content_copy

Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan kualitas rumah susun diatur dalam peraturan pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

BAB IX

PENGENDALIAN

Pasal 70

content_copy

(1)

Pengendalian penyelenggaraan rumah susun dilakukan pada tahap:

a.

perencanaan;

b.

pembangunan;

c.

penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan; dan

d.

pengelolaan.

(2)

Pengendalian penyelenggaraan rumah susun pada tahap perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan melalui penilaian terhadap:

a.

kesesuaian jumlah dan jenis;

b.

kesesuaian zonasi;

c.

kesesuaian lokasi; dan

d.

kepastian ketersediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum.

(3)

Pengendalian penyelenggaraan rumah susun pada tahap pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan terhadap:

a.

bukti penguasaan atas tanah; dan

b.

kesesuaian antara pelaksanaan pembangunan dan izin mendirikan bangunan.

(4)

Pengendalian penyelenggaraan rumah susun pada tahap penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan melalui:

a.

pemberian Sertifikat Laik Fungsi; dan

b.

bukti penguasaan dan pemilikan atas sarusun.

(5)

Pengendalian penyelenggaraan rumah susun pada tahap pengelolaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan melalui:

a.

pengawasan terhadap pembentukan PPPSRS; dan

b.

pengawasan terhadap pengelolaan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 71

content_copy

(1)

Pengendalian penyelenggaraan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1) dilakukan oleh pemerintah melalui:

a.

perizinan;

b.

pemeriksaan; dan

c.

penertiban.

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengendalian penyelenggaraan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

BAB X

KELEMBAGAAN

Bagian Kesatu

Badan Pelaksana

Pasal 72

content_copy

(1)

Untuk mewujudkan penyediaan rumah susun yang layak dan terjangkau bagi MBR, Pemerintah menugasi atau membentuk badan pelaksana.

(2)

Penugasan atau pembentukan badan pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk:

a.

mempercepat penyediaan rumah susun umum dan rumah susun khusus, terutama di perkotaan;

b.

menjamin bahwa rumah susun umum hanya dimiliki dan dihuni oleh MBR;

c.

menjamin tercapainya asas manfaat rumah susun; dan

d.

melaksanakan berbagai kebijakan di bidang rumah susun umum dan rumah susun khusus.

(3)

Badan pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai fungsi pelaksanaan pembangunan, pengalihan kepemilikan, dan distribusi rumah susun umum dan rumah susun khusus secara terkoordinasi dan terintegrasi.

(4)

Untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), badan pelaksana bertugas:

a.

melaksanakan pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus;

b.

menyelenggarakan koordinasi operasional lintas sektor, termasuk dalam penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum;

c.

melaksanakan peningkatan kualitas rumah susun umum dan rumah susun khusus;

d.

memfasilitasi penyediaan tanah untuk pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus;

e.

memfasilitasi penghunian, pengalihan, pemanfaatan, serta pengelolaan rumah susun umum dan rumah susun khusus;

f.

melaksanakan verifikasi pemenuhan persyaratan terhadap calon pemilik dan/atau penghuni rumah susun umum dan rumah susun khusus; dan

g.

melakukan pengembangan hubungan kerja sama di bidang rumah susun dengan berbagai instansi di dalam dan di luar negeri.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 73

content_copy

Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan atau pembentukan badan pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Kedua

PPPSRS

Pasal 74

content_copy

(1)

Pemilik sarusun wajib membentuk PPPSRS.

(2)

PPPSRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beranggotakan pemilik atau penghuni yang mendapat kuasa dari pemilik sarusun.

(3)

PPPSRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberi kedudukan sebagai badan hukum berdasarkan undang-undang ini.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 75

content_copy

(1)

Pelaku pembangunan wajib memfasilitasi terbentuknya PPPSRS paling lambat sebelum masa transisi sebagaimana dimaksud pada Pasal 59 ayat (2) berakhir.

(2)

Dalam hal PPPSRS telah terbentuk, pelaku pembangunan segera menyerahkan pengelolaan benda bersama, bagian bersama, dan tanah bersama kepada PPPSRS.

(3)

PPPSRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkewajiban mengurus kepentingan para pemilik dan penghuni yang berkaitan dengan pengelolaan kepemilikan benda bersama, bagian bersama, tanah bersama, dan penghunian.

(4)

PPPSRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat membentuk atau menunjuk pengelola.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 76

content_copy

Tata cara mengurus kepentingan para pemilik dan penghuni yang bersangkutan dengan penghunian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PPPSRS.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 77

content_copy

(1)

Dalam hal PPPSRS memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan kepemilikan dan pengelolaan rumah susun, setiap anggota mempunyai hak yang sama dengan NPP.

(2)

Dalam hal PPPSRS memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan penghunian rumah susun, setiap anggota berhak memberikan satu suara.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 78

content_copy

Ketentuan lebih lanjut mengenai PPPSRS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74, Pasal 75, Pasal 76, dan Pasal 77 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XI

TUGAS DAN WEWENANG

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 79

content_copy

(1)

Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan rumah susun mempunyai tugas dan wewenang.

(2)

Tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan tingkat kewenangan masing-masing.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Kedua

Tugas

Paragraf 1

Pemerintah

Pasal 80

content_copy

Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan rumah susun mempunyai tugas:

a.

merumuskan kebijakan dan strategi di bidang rumah susun pada tingkat nasional;

b.

menyusun rencana dan program pembangunan dan pengembangan rumah susun pada tingkat nasional;

c.

menyelenggarakan sinkronisasi dan sosialisasi peraturan perundang-undangan serta kebijakan dan strategi penyelenggaraan rumah susun pada tingkat nasional;

d.

menyelenggarakan fungsi operasionalisasi pelaksanaan kebijakan penyediaan rumah susun dan mengembangkan lingkungan rumah susun sebagai bagian dari permukiman pada tingkat nasional;

e.

memberdayakan pemangku kepentingan dalam bidang rumah susun pada tingkat nasional;

f.

menyusun dan menetapkan standar pelayanan minimal rumah susun;

g.

menyelenggarakan koordinasi dan fasilitasi penyusunan dan penyediaan basis data rumah susun pada tingkat nasional;

h.

mengalokasikan dana dan/atau biaya pembangunan untuk mendukung terwujudnya rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara;

i.

memfasilitasi penyediaan rumah susun bagi masyarakat, terutama bagi MBR;

j.

memfasilitasi penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum bagi rumah susun yang disediakan untuk MBR;

k.

menyelenggarakan penyusunan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil rekayasa teknologi di bidang rumah susun; dan

l.

melakukan pencadangan atau pengadaan tanah untuk rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara yang sesuai dengan peruntukan lokasi pembangunan rumah susun.

penjelasan pasalexpand_more

Paragraf 2

Pemerintah Provinsi

Pasal 81

content_copy

Pemerintah provinsi dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan rumah susun mempunyai tugas:

a.

merumuskan kebijakan dan strategi di bidang rumah susun pada tingkat provinsi dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional;

b.

menyusun rencana dan program pembangunan dan pengembangan rumah susun pada tingkat provinsi dengan berpedoman pada perencanaan nasional;

c.

melaksanakan sinkronisasi dan sosialisasi peraturan perundang-undangan serta kebijakan dan strategi penyelenggaraan rumah susun pada tingkat provinsi;

d.

melaksanakan fungsi operasionalisasi kebijakan penyediaan rumah susun dan mengembangkan lingkungan hunian rumah susun sebagai bagian dari kawasan permukiman pada tingkat provinsi;

e.

memberdayakan pemangku kepentingan dalam bidang rumah susun pada tingkat provinsi;

f.

melaksanakan standar pelayanan minimal rumah susun;

g.

melaksanakan koordinasi dan fasilitasi penyusunan dan penyediaan basis data rumah susun di kabupaten/kota pada wilayah provinsi;

h.

mengalokasikan dana dan/atau biaya pembangunan untuk mendukung terwujudnya rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara;

i.

memfasilitasi penyediaan rumah susun bagi masyarakat, terutama bagi MBR;

j.

memfasilitasi penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum bagi rumah susun yang disediakan untuk MBR;

k.

melaksanakan kebijakan provinsi tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil rekayasa teknologi di bidang rumah susun dengan berpedoman pada kebijakan nasional; dan

l.

melakukan pencadangan atau pengadaan tanah untuk rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara yang sesuai dengan peruntukan lokasi pembangunan rumah susun.

penjelasan pasalexpand_more

Paragraf 3

Pemerintah Kabupaten/Kota

Pasal 82

content_copy

Pemerintah kabupaten/kota dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan rumah susun mempunyai tugas:

a.

merumuskan kebijakan dan strategi pada tingkat kabupaten/kota di bidang rumah susun dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi provinsi dan/atau nasional;

b.

menyusun rencana dan program pembangunan dan pengembangan rumah susun pada tingkat kabupaten/kota dengan berpedoman pada perencanaan provinsi dan/atau nasional;

c.

melaksanakan sinkronisasi dan sosialisasi peraturan perundang-undangan serta kebijakan dan strategi penyelenggaraan rumah susun pada tingkat kabupaten/kota;

d.

melaksanakan fungsi operasionalisasi kebijakan penyediaan dan penataan lingkungan hunian rumah susun pada tingkat kabupaten/kota;

e.

memberdayakan pemangku kepentingan dalam bidang rumah susun pada tingkat kabupaten/kota;

f.

melaksanakan standar pelayanan minimal rumah susun;

g.

melaksanakan koordinasi dan fasilitasi penyusunan dan penyediaan basis data rumah susun pada tingkat kabupaten/kota;

h.

mengalokasikan dana dan/atau biaya pembangunan untuk mendukung terwujudnya rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara;

i.

memfasilitasi penyediaan rumah susun bagi masyarakat, terutama bagi MBR;

j.

memfasilitasi penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum pembangunan rumah susun bagi MBR;

k.

melaksanakan kebijakan daerah tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil rekayasa teknologi di bidang rumah susun dengan berpedoman pada kebijakan provinsi dan/atau nasional;

l.

melakukan pencadangan atau pengadaan tanah untuk rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara yang sesuai dengan peruntukan lokasi pembangunan rumah susun;

m.

memfasilitasi pemeliharaan dan perawatan prasarana, sarana, dan utilitas umum rumah susun yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat; dan

n.

menginventarisasi, mencatat, dan memetakan tanah, prasarana, sarana, utilitas umum, dan bangunan yang menjadi bagian dari rumah susun.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Ketiga

Wewenang

Paragraf 1

Pemerintah

Pasal 83

content_copy

Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan rumah susun mempunyai wewenang:

a.

menetapkan kebijakan dan strategi di bidang rumah susun pada tingkat nasional;

b.

menetapkan peraturan perundang-undangan, termasuk norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang rumah susun;

c.

mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan kebijakan, strategi, dan program di bidang rumah susun pada tingkat nasional;

d.

mengawasi pelaksanaan operasionalisasi kebijakan dan strategi di bidang rumah susun pada tingkat nasional;

e.

memfasilitasi pengelolaan bagian bersama dan benda bersama rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara;

f.

memfasilitasi kerja sama pada tingkat nasional antara pemerintah dan badan hukum atau kerja sama internasional antara pemerintah dan badan hukum asing dalam penyelenggaraan rumah susun;

g.

menyelenggarakan koordinasi pemanfaatan teknologi dan rancang bangun yang ramah lingkungan serta pemanfaatan industri bahan bangunan yang mengutamakan sumber daya dalam negeri dan kearifan lokal yang aman bagi kesehatan;

h.

menyelenggarakan koordinasi pengawasan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang rumah susun; dan

i.

memfasilitasi peningkatan kualitas rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara pada tingkat nasional.

penjelasan pasalexpand_more

Paragraf 2

Pemerintah Provinsi

Pasal 84

content_copy

Pemerintah provinsi dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan rumah susun mempunyai wewenang:

a.

menetapkan kebijakan dan strategi di bidang rumah susun pada tingkat provinsi dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional;

b.

menyusun dan menyempurnakan peraturan perundang-undangan di bidang rumah susun pada tingkat provinsi dengan berpedoman pada norma, standar, prosedur, dan kriteria nasional;

c.

menyusun petunjuk pelaksanaan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang rumah susun yang telah ditetapkan oleh Pemerintah;

d.

melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan operasionalisasi kebijakan dan strategi di bidang rumah susun pada tingkat provinsi;

e.

melaksanakan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundang-undangan, kebijakan, strategi, serta program di bidang rumah susun pada tingkat provinsi;

f.

memfasilitasi pengelolaan bagian bersama dan benda bersama rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara pada tingkat provinsi;

g.

memfasilitasi kerja sama pada tingkat provinsi, antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan badan hukum dalam penyelenggaraan rumah susun;

h.

melaksanakan pemanfaatan teknologi dan rancang bangun yang ramah lingkungan serta pemanfaatan industri bahan bangunan yang mengutamakan sumber daya dalam negeri dan kearifan lokal yang aman bagi kesehatan;

i.

melaksanakan pengawasan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang rumah susun; dan

j.

memfasilitasi peningkatan kualitas rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara pada tingkat provinsi.

penjelasan pasalexpand_more

Paragraf 3

Pemerintah Kabupaten/Kota

Pasal 85

content_copy

Pemerintah kabupaten/kota dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan rumah susun mempunyai wewenang:

a.

menetapkan kebijakan dan strategi di bidang rumah susun pada tingkat kabupaten/kota dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional dan provinsi;

b.

menyusun dan menyempurnakan peraturan perundang-undangan di bidang rumah susun pada tingkat kabupaten/kota dengan berpedoman pada norma, standar, prosedur, dan kriteria provinsi dan/atau nasional;

c.

menyusun petunjuk pelaksanaan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang rumah susun yang telah ditetapkan oleh pemerintah provinsi dan/atau Pemerintah;

d.

melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan operasionalisasi kebijakan dan strategi di bidang rumah susun;

e.

melaksanakan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundang-undangan, kebijakan, strategi, serta program di bidang rumah susun pada tingkat kabupaten/kota;

f.

memfasilitasi pengelolaan bagian bersama dan benda bersama rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara pada tingkat kabupaten/kota;

g.

menetapkan zonasi dan lokasi pembangunan rumah susun;

h.

memfasilitasi kerja sama pada tingkat kabupaten/kota antara pemerintah kabupaten/kota dan badan hukum dalam penyelenggaraan rumah susun;

i.

melaksanakan pemanfaatan teknologi dan rancang bangun yang ramah lingkungan serta pemanfaatan industri bahan bangunan yang mengutamakan sumber daya dalam negeri dan kearifan lokal yang aman bagi kesehatan;

j.

melaksanakan pengawasan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang rumah susun; dan

k.

memfasilitasi peningkatan kualitas rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara pada tingkat kabupaten/kota.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Keempat

Bantuan dan Kemudahan

Pasal 86

content_copy

Pemerintah memberikan bantuan dan kemudahan dalam rangka pembangunan, penghunian, penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan rumah susun bagi MBR.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 87

content_copy

(1)

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah bertanggung jawab dalam pengadaan tanah untuk pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan/atau rumah susun negara.

(2)

Tanggung jawab dalam pengadaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang.

(3)

Biaya pengadaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan tingkat kewenangannya.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 88

content_copy

(1)

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan insentif kepada pelaku pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus serta memberikan bantuan dan kemudahan bagi MBR.

(2)

Insentif yang diberikan kepada pelaku pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a.

fasilitasi dalam pengadaan tanah;

b.

fasilitasi dalam proses sertifikasi tanah;

c.

fasilitasi dalam proses perizinan;

d.

fasilitas kredit konstruksi dengan suku bunga rendah;

e.

insentif perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan/atau

f.

bantuan penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum.

(3)

Bantuan dan kemudahan yang diberikan kepada MBR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a.

kredit kepemilikan sarusun dengan suku bunga rendah;

b.

keringanan biaya sewa sarusun;

c.

asuransi dan penjaminan kredit pemilikan rumah susun;

d.

insentif perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan/atau

e.

sertifikasi sarusun.

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara pemberian insentif kepada pelaku pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus serta bantuan dan kemudahan kepada MBR diatur dalam peraturan pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XII

HAK DAN KEWAJIBAN

Bagian Kesatu

Hak

Pasal 89

content_copy

(1)

Setiap orang mempunyai hak untuk menghuni sarusun yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan di dalam lingkungan yang sehat, aman, dan harmonis.

(2)

Dalam penyelenggaraan rumah susun, setiap orang berhak:

a.

memberikan masukan dan usulan dalam penyusunan kebijakan dan strategi rumah susun pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota;

b.

mengawasi ketaatan para pemangku kepentingan terhadap pelaksanaan kebijakan, strategi, dan program pembangunan rumah susun sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan, baik pada tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota;

c.

memperoleh informasi, melakukan penelitian, serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi rumah susun;

d.

ikut serta membantu mengelola informasi rumah susun, baik pada tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota;

e.

membangun rumah susun;

f.

memperoleh manfaat dari penyelenggaraan rumah susun;

g.

memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialami secara langsung sebagai akibat penyelenggaraan rumah susun;

h.

mengupayakan kerja sama antarlembaga dan kemitraan antara pemerintah dan masyarakat dalam kegiatan usaha di bidang rumah susun; dan

i.

mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan terhadap penyelenggaraan rumah susun yang merugikan masyarakat.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Kedua

Kewajiban

Pasal 90

content_copy

(1)

Setiap orang wajib menaati pelaksanaan kebijakan, strategi, dan program pembangunan rumah susun yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang rumah susun.

(2)

Setiap orang dalam menggunakan haknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 wajib menaati ketentuan peraturan perundangan-undangan di bidang rumah susun.

(3)

Dalam penyelenggaraan rumah susun, setiap orang wajib:

a.

menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, dan kesehatan di lingkungan rumah susun;

b.

ikut serta mencegah terjadinya penyelenggaraan rumah susun yang merugikan dan membahayakan orang lain dan/atau kepentingan umum;

c.

menjaga dan memelihara prasarana dan sarana lingkungan serta utilitas umum yang berada di lingkungan rumah susun; dan

d.

mengawasi pemanfaatan dan pemfungsian prasarana, sarana, dan utilitas umum di lingkungan rumah susun.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XIII

PENDANAAN DAN SISTEM PEMBIAYAAN

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 91

content_copy

(1)

Pendanaan dan sistem pembiayaan dimaksudkan untuk memastikan ketersediaan dana dan dana murah jangka panjang yang berkelanjutan untuk pemenuhan kebutuhan rumah susun.

(2)

Pemerintah dan pemerintah daerah mendorong pemberdayaan sistem pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Kedua

Pendanaan

Pasal 92

content_copy

Sumber dana untuk pemenuhan kebutuhan rumah susun berasal dari:

a.

anggaran pendapatan dan belanja negara;

b.

anggaran pendapatan dan belanja daerah; dan/atau

c.

sumber dana lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 93

content_copy

Dana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 dimanfaatkan untuk mendukung:

a.

penyelenggaraan rumah susun umum, rumah susun khusus, serta rumah susun negara; dan/atau

b.

pemberian bantuan dan/atau kemudahan pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara.

penjelasan pasalexpand_more

Bagian Ketiga

Sistem Pembiayaan

Paragraf 1

Umum

Pasal 94

content_copy

(1)

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah melakukan upaya pengembangan sistem pembiayaan untuk penyelenggaraan rumah susun.

(2)

Pengembangan sistem pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a.

lembaga pembiayaan;

b.

pengerahan dan pemupukan dana;

c.

pemanfaatan sumber biaya; dan

d.

kemudahan atau bantuan pembiayaan.

(3)

Sistem pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

Paragraf 2

Pemanfaatan Sumber Biaya

Pasal 95

content_copy

Pemanfaatan sumber biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) huruf c digunakan untuk:

a.

pembangunan rumah susun;

b.

pemerolehan sarusun;

c.

pemeliharaan dan perawatan rumah susun;

d.

peningkatan kualitas rumah susun; dan/atau

e.

kepentingan lain di bidang rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XIV

PERAN MASYARAKAT

Pasal 96

content_copy

(1)

Penyelenggaraan rumah susun dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan tingkat kewenangannya dengan melibatkan peran masyarakat.

(2)

Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memberikan masukan dalam:

a.

penyusunan rencana pembangunan rumah susun dan lingkungannya;

b.

pelaksanaan pembangunan rumah susun dan lingkungannya;

c.

pemanfaatan rumah susun dan lingkungannya;

d.

pemeliharaan dan perbaikan rumah susun dan lingkungannya; dan/atau

e.

pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan rumah susun dan lingkungannya.

(3)

Masyarakat dapat membentuk forum pengembangan rumah susun.

(4)

Forum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mempunyai fungsi dan tugas:

a.

menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dalam pengembangan rumah susun;

b.

membahas dan merumuskan pemikiran arah pengembangan penyelenggaraan rumah susun;

c.

meningkatkan peran dan pengawasan masyarakat;

d.

memberikan masukan kepada pemerintah; dan/atau

e.

melakukan peran arbitrase dan mediasi di bidang penyelenggaraan rumah susun.

(5)

Pembentukan forum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(6)

Ketentuan lebih lanjut mengenai peran masyarakat dalam penyelenggaraan rumah susun dan forum pengembangan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) diatur dalam peraturan Menteri.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XV

LARANGAN

Pasal 97

content_copy

Setiap pelaku pembangunan rumah susun komersial dilarang mengingkari kewajibannya untuk menyediakan rumah susun umum sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari total luas lantai rumah susun komersial yang dibangun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 98

content_copy

Pelaku pembangunan dilarang membuat PPJB:

a.

yang tidak sesuai dengan yang dipasarkan; atau

b.

sebelum memenuhi persyaratan kepastian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 99

content_copy

Setiap orang dilarang:

a.

merusak atau mengubah prasarana, sarana, dan utilitas umum yang ada di lingkungan rumah susun;

b.

melakukan perbuatan yang membahayakan orang lain atau kepentingan umum dalam lingkungan rumah susun;

c.

mengubah fungsi dan pemanfaatan sarusun; atau

d.

mengalihfungsikan prasarana, sarana, dan utilitas umum, serta benda bersama, bagian bersama, dan tanah bersama dalam pembangunan atau pengelolaan rumah susun.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 100

content_copy

Setiap orang dilarang membangun rumah susun di luar lokasi yang ditetapkan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 101

content_copy

(1)

Setiap orang dilarang:

a.

mengubah peruntukan lokasi rumah susun yang sudah ditetapkan; atau

b.

mengubah fungsi dan pemanfaatan rumah susun.

(2)

Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan apabila terdapat perubahan tata ruang.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 102

content_copy

Setiap pejabat dilarang:

a.

menetapkan lokasi yang berpotensi menimbulkan bahaya untuk pembangunan rumah susun; atau

b.

mengeluarkan izin mendirikan bangunan rumah susun yang tidak sesuai dengan lokasi peruntukan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 103

content_copy

Setiap orang dilarang menyewakan atau mengalihkan kepemilikan sarusun umum kepada pihak lain, kecuali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 104

content_copy

Setiap orang dilarang menghalang-halangi kegiatan peningkatan kualitas rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1), Pasal 62, Pasal 64, dan Pasal 65.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XVI

PENYELESAIAN SENGKETA

Pasal 105

content_copy

(1)

Penyelesaian sengketa di bidang rumah susun terlebih dahulu diupayakan berdasarkan musyawarah untuk mufakat.

(2)

Dalam hal penyelesaian sengketa melalui musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, pihak yang dirugikan dapat menggugat melalui pengadilan yang berada di lingkungan pengadilan umum atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan yang disepakati para pihak yang bersengketa melalui alternatif penyelesaian sengketa.

(3)

Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui arbitrase, konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan/atau penilaian ahli sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4)

Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak menghilangkan tanggung jawab pidana.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 106

content_copy

Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 ayat (2) dapat dilakukan oleh:

a.

orang perseorangan;

b.

badan hukum;

c.

masyarakat; dan/atau

d.

pemerintah atau instansi terkait.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XVII

SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal 107

content_copy

Setiap orang yang menyelenggarakan rumah susun tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2), Pasal 22 ayat (3), Pasal 25 ayat (1), Pasal 26 ayat (1), Pasal 30, Pasal 39 ayat (1), Pasal 40 ayat (1), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52, Pasal 59 ayat (1), Pasal 61 ayat (1), Pasal 66, Pasal 74 ayat (1) dikenai sanksi administratif.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 108

content_copy

(1)

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 dapat berupa:

a.

peringatan tertulis;

b.

pembatasan kegiatan pembangunan dan/atau kegiatan usaha;

c.

penghentian sementara pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan;

d.

penghentian sementara atau penghentian tetap pada pengelolaan rumah susun;

e.

pengenaan denda administratif;

f.

pencabutan IMB;

g.

pencabutan sertifikat laik fungsi;

h.

pencabutan SHM sarusun atau SKBG sarusun;

i.

perintah pembongkaran bangunan rumah susun; atau

j.

pencabutan izin usaha.

(2)

Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menghilangkan tanggung jawab pemulihan dan pidana.

(3)

Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif, tata cara, dan besaran denda administratif diatur dalam peraturan pemerintah.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XVIII

KETENTUAN PIDANA

Pasal 109

content_copy

Setiap pelaku pembangunan rumah susun komersial yang mengingkari kewajibannya untuk menyediakan rumah susun umum sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari total luas lantai rumah susun komersial yang dibangun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 110

content_copy

Pelaku pembangunan yang membuat PPJB:

a.

yang tidak sesuai dengan yang dipasarkan; atau

b.

sebelum memenuhi persyaratan kepastian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2);

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 111

content_copy

(1)

Setiap orang yang:

a.

merusak atau mengubah prasarana, sarana, dan utilitas umum yang ada di lingkungan rumah susun;

b.

melakukan perbuatan yang membahayakan orang lain atau kepentingan umum dalam lingkungan rumah susun;

c.

mengubah fungsi dan pemanfaatan sarusun; atau

d.

mengalihfungsikan prasarana, sarana, dan utilitas umum, serta benda bersama, bagian bersama, dan tanah bersama dalam pembangunan atau pengelolaan rumah susun dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(2)

Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan bahaya bagi nyawa orang atau barang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 112

content_copy

Setiap orang yang membangun rumah susun di luar lokasi yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 113

content_copy

(1)

Setiap orang yang:

a.

mengubah peruntukan lokasi rumah susun yang sudah ditetapkan; atau

b.

mengubah fungsi dan pemanfaatan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(2)

Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan bahaya bagi nyawa orang atau barang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 114

content_copy

Setiap pejabat yang:

a.

menetapkan lokasi yang berpotensi menimbulkan bahaya untuk pembangunan rumah susun; atau

b.

mengeluarkan izin mendirikan bangunan rumah susun yang tidak sesuai dengan lokasi peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 115

content_copy

Setiap orang yang menyewakan atau mengalihkan kepemilikan sarusun umum kepada pihak lain, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 116

content_copy

Setiap orang yang menghalang-halangi kegiatan peningkatan kualitas rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 117

content_copy

(1)

Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 sampai dengan Pasal 116 dilakukan oleh badan hukum, maka selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana dapat dijatuhkan terhadap badan hukum berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda terhadap orang.

(2)

Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum dapat dijatuhi pidana tambahan berupa:

a.

pencabutan izin usaha; atau

b.

pencabutan status badan hukum.

penjelasan pasalexpand_more

BAB XIX

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 118

content_copy

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:

a.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3318) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

b.

Semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-Undang ini.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 119

content_copy

Peraturan perundang-undangan pelaksanaan yang diamanatkan dalam Undang-Undang ini diselesaikan paling lambat 1 (satu) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.

penjelasan pasalexpand_more

Pasal 120

content_copy

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

penjelasan pasalexpand_more

Disahkan Di Jakarta,

Pada Tanggal 10 November 2011

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan Di Jakarta,

Pada Tanggal 10 November 2011

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.

AMIR SYAMSUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 108

PENJELASAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 20 TAHUN 2011

TENTANG

RUMAH SUSUN

I. UMUM

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 28H ayat (1) menegaskan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera, lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Tempat tinggal mempunyai peran strategis dalam pembentukan watak dan kepribadian bangsa serta sebagai salah satu upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, berjati diri, mandiri, dan produktif. Oleh karena itu, negara bertanggung jawab untuk menjamin pemenuhan hak akan tempat tinggal dalam bentuk rumah yang layak dan terjangkau.

Pemenuhan hak atas rumah merupakan masalah nasional yang dampaknya sangat dirasakan di seluruh wilayah tanah air. Hal itu dapat dilihat dari masih banyaknya MBR yang belum dapat menghuni rumah yang layak, khususnya di perkotaan yang mengakibatkan terbentuknya kawasan kumuh. Pemenuhan kebutuhan perumahan tersebut salah satunya dapat dilakukan melalui pembangunan rumah susun sebagai bagian dari pembangunan perumahan mengingat keterbatasan lahan di perkotaan. Pembangunan rumah susun diharapkan mampu mendorong pembangunan perkotaan yang sekaligus menjadi solusi peningkatan kualitas permukiman.

Ketentuan mengenai rumah susun selama ini diatur dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, tetapi dalam perkembangannya, undang-undang tersebut sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum, kebutuhan setiap orang dalam penghunian, kepemilikan, dan pemanfaatan rumah susun. Di samping itu, pengaruh globalisasi, budaya, dan kehidupan masyarakat serta dinamika masyarakat menjadikan undang-undang tersebut tidak memadai lagi sebagai pedoman dalam pengaturan penyelenggaraan rumah susun.

Undang-Undang ini menciptakan dasar hukum yang tegas berkaitan dengan penyelenggaraan rumah susun dengan berdasarkan asas kesejahteraan, keadilan dan pemerataan, kenasionalan, keterjangkauan dan kemudahan, keefisienan dan kemanfaatan, kemandirian dan kebersamaan, kemitraan, keserasian dan keseimbangan, keterpaduan, kesehatan, kelestarian dan berkelanjutan, keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan, serta keamanan, ketertiban, dan keteraturan.

Dalam undang-undang ini penyelenggaraan rumah susun bertujuan untuk menjamin terwujudnya rumah susun yang layak huni dan terjangkau, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan ruang, mengurangi luasan dan mencegah timbulnya perumahan dan permukiman kumuh, mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan, memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi, memberdayakan para pemangku kepentingan, serta memberikan kepastian hukum dalam penyediaan, kepenghunian, pengelolaan, dan kepemilikan rumah susun. Pengaturan dalam undang-undang ini juga menunjukkan keberpihakan negara dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang terjangkau bagi MBR serta partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan rumah susun.

Undang-Undang ini memberikan kewenangan yang luas kepada Pemerintah di bidang penyelenggaraan rumah susun dan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk melakukan penyelenggaraan rumah susun di daerah sesuai dengan kewenangannya. Kewenangan yang diberikan tersebut didukung oleh pendanaan yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara maupun anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Undang-Undang ini mengatur penyelenggaraan rumah susun secara komprehensif meliputi pembinaan, perencanaan, pembangunan, penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan, pengelolaan, peningkatan kualitas, pengendalian, kelembagaan, tugas dan wewenang, hak dan kewajiban, pendanaan dan sistem pembiayaan, dan peran masyarakat.

Hal mendasar yang diatur dalam Undang-Undang ini, antara lain, mengenai jaminan kepastian hukum kepemilikan dan kepenghunian atas sarusun bagi MBR; adanya badan yang menjamin penyediaan rumah susun umum dan rumah susun khusus; pemanfaatan barang milik negara/daerah yang berupa tanah dan pendayagunaan tanah wakaf; kewajiban pelaku pembangunan rumah susun komersial untuk menyediakan rumah susun umum; pemberian insentif kepada pelaku pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus; bantuan dan kemudahan bagi MBR; serta perlindungan konsumen.

Untuk kemudahan pemakaian HukumJelas, penjelasan masing-masing pasal telah dipindahkan ke bawah pasal terkait